Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Rabu, 03 Oktober 2012

Secara umum, usia ideal untuk seorang anak dapat masuk Sekolah Dasar adalah di atas enam tahun. Hal tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa anak-anak pada usia ini sudah melewati masa balita. Anak dinilai telah siap dari segi intelektual, emosional, sosial, dan spiritual untuk berada jauh dari orang tua dan mencoba mandiri dalam belajar (Maimunah Hasan). Apabila anak berusia kurang dari enam tahun dipaksakan masuk Sekolah Dasar, maka akan dikhawatirkan akan mengalami gangguan perkembangan pada usia selanjutnya.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Faud Hasan menyebutkan bahwa pertimbangan seorang anak masuk Sekolah Dasar adalah sesuai dengan tingkat
perkembangan anak, yakni sesudah mengalami masa balita. Oleh karena itu, pada usia enam tahun seorang anak sudah layak untuk masuk sekolah. Menurut Faud Hasan, ketentuan ini menjadi pegangan umum di seluruh dunia, yaitu usia ideal masuk Sekolah Dasar adalah di atas balita (Maimunah Hasan, 2009: 344)
Perlu dipahami bahwa pendidikan anak usia dini mencakup play grup, TK, Kelas I, Kelas II dan Kelas III Sekolah Dasar. Persepsi ini perlu dipahami oleh pihak guru, orang tua dan sekolah bahwa anak usia enam sampai delapan tahun masih tergolong dalam kelompok usia dini. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) membahas pendidikan untuk anak usia 0-8 tahun (Slamet Suyanto). Anak usia tersebut dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak usia di atasnya, sehingga pendidikannya dipandang perlu untuk dikhususkan. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan atau berpikir holistik dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana.
Menurut Maimunah Hasan  menyatakan  bahwa, pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke beberapa arah berikut ini: (1) pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar); (2) kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi dan kecerdasan spritual); (3) sosioemosional (sikap, perilaku, dan agama) bahasa dan komunikasi, yang disesuaikan dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak. Adapun ruang lingkup Anak Usia Dini terdiri dari: Infant (0-1 tahun), Toddler (2-3 tahun), Preschool (3-6 tahun), Early primari school (SD Kelas awal usia 6-8 tahun).
Setiap anak bersifat unik. Tidak ada dua anak yang  persis sama sekalipun mereka kembar siam. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda, memiliki bakat, kelebihan dan minat sendiri. Ki Hajar Dewantara merangkum semua potensi anak mencadi cita, rasa, dan karsa. Teori multiple Intelligences dari Gardner menyatakan ada delapan tipe kecerdasan. Biasanya seorang anak memiliki beberapa kecerdasan, tetapi sangat jarang yang memiliki secara sempurna delapan kecerdasan tersebut. PAUD bertujuan membimbing dan mengembangkan secara optimal sesuai tipe kecerdasannya. Oleh karena itu, guru harus memahami kebutuhan khusus atau kebutuhan individual anak. Akan tetapi, di dasari pula ada faktor-faktor yang sulit atau tidak dapat diubah dalam diri anak yaitu faktor  genetis. Oleh sebab itu, PAUD diarahkan untuk memfasilitasi setiap anak dengan lingkungan dan bimbingan belajar yang tepat agar anak dapat berkembang sesuai kapasitas genetisnya.
Anak usia ini sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat, baik fisik maupun mental. Pertumbuhan dan perkembangan anak telah dimulai sejak prenatal, yaitu sejak dalam kandungan. Pembentukan sel saraf otak, sebagai modal pembentukan kecerdasan, terjadi saat anak dalam kandungan.
Perkembangan anak usia ini termasuk perkembangan masa kanak-kanak. Setiap aspek perkembangan anak selalu saling berhubungan, walaupun perkembangan fisik, kognitif dan sosial dapat dipisahkan. Kenyataan dalam hidup mereka perkembangan tersebut tidak hanya saling berhubungan, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang.
a.      Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik menggambarkan perubahan dalam penampilan fisik anak-anak, sama seperti keterampilan motor. Prestasi fisik yang penting dalam masa anak-anak adalah bertambahnya kontrol anak terhadap gerakan-gerakan motor dari tidak teratur menjadi teratur dan terarah. Anak telah dapat menali sepatunya, menulis huruf abjad, berjalan, berlari, dan sebagainya. Anak juga dapat menunjukkan keterampilan motor yang baik, seperti memotong dengan gunting, dan menggunakan pensil warna untuk mewarnai sebuah gambar. Anak juga sudah belajar menulis kalimat dan kata-kata serta menekan tombol pada komputer yang saat ini sudah diperkenalkan pada siswa Sekolah Dasar (Sri Esti Wuryani Djiwandono).
            Selain itu, karakteristik perkembangan anak pada kelas awal Sekolah Dasar biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Anak telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, mengendarai sepeda roda dua,  menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata.

b.      Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget  tindakan yang cerdas adalah tindakan yang menimbulkan kondisi yang menimbulkan kondisi yang mendekati optimal untuk kelangsungan hidup manusia. Dengan kata lain, kecerdasan memungkinkan manusia untuk menangani secara efektif lingkungannya. Karena lingkungan dan manusia senantiasa berubah, sebuah interaksi yang “cerdas” antara keduanya juga pasti terus menerus berubah. Sebuah tindakan yang cerdas selalu menciptakan kondisi optimal.  Jadi, menurut Piaget, kecerdasan adalah bagian integral dari setiap manusia karena manusia yang hidup selalu mencari kondisi yang kondusif untuk kelangsungan hidup. Namun, bagaimana kecerdasan memanifestasikan dirinya pada waktu tertentu akan selalu bervariasi sesuai kondisi yang ada. Teori Piaget sering disebut sebagai epistimologi genetik (genetic epistemology) karena teori ini berusaha melacak perkembangan kemampuan intelektual. Perlu dijelaskan di sini istilah genetic mengacu pada pertumbuhan developmental bukan warisan biologis.
Tahap perkembangan intelektual menurut Piaget adalah:
1)   Sensorimotor Stage (dari lahir sampai dua tahun). Tahap sensorimotor dicirikan oleh tidak adanya bahasa. Karena anak-anak tidak menguasai kata untuk suatu benda, objek akan tidak eksis bagi anak jika anak tidak menghadapinya secara langsung. Anak pada tahap ini bersikap egosentris. Segala sesuatu dilihat berdasarkan kerangka referensi dirinya sendiri, dan dunia psikologis anak adalah satu-satunya dunia yang ada.
2)      Preoperational Thingking (sekitar dua sampai tujuh tahun). Tahap pemikiran praoperasional terbagi atas dua :
a)      Pemikiran prakonseptual (sekitar 2-4 tahun).
Pada tahap ini anak mulai membentuk konsep sederhana. Mereka mulai mengklasifikasi benda-benda dalam kelompok tertentu berdasarkan kemiripan, tetapi mereka melakukan banyak kesalahan lantaran konsep mereka.
b)      Pemikiran intuitif (sekitar 4-7 tahun)
Pada tahap ini anak-anak memecahkan problem secara intuitif, bukan berdasarkan kaidah-kaidah logika. Ciri paling menonjol anak pada tahap ini adalah kegagalan untuk mengembangkan konservasi. Konservasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyadari bahwa jumlah, panjang, substansi, atau luas akan tetap sama meski mungkin hal-hal seperti itu direpresentasikan kepada anak dalam bentuk yang berbeda. Piaget berpendapat (Martuti, 2008: 28) pada usia ini anak mulai main khayal dan bermain pura-pura. Pada masa ini anak mulai banyak bertanya dan menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan sebagainya. Pada usia ini anak juga sudah mulai menggunakan berbagai benda sebagai simbol. Kegiatan bermain simbolik merupakan latihan berfikir, mengarahkan anak untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, dan dalam perkembangannya akan semakin mendekati kenyataan.
3)      Concrete Operations (sekitar 7-11 tahun)
Anak sekarang mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan (konvensi), kemampuan mengelompokkan secara memadai, melakukan pengurutan (pengurutan dari yang terkecil sampai paling besar dan sebaliknya), dan menangani konsep angka. Tetapi, selama tahap ini proses pemikiran diarahkan pada kejadian riil yang diamati oleh anak.
4)      Formal Operations (sekitar 11-15 tahun).
Anak-anak pada usia ini dapat menangani situasi hipotesis, dan proses berfikir anak tidak lagi tergantung hanya pada hal-hal yang langsung dan riil. Pemikiran pada tahap ini semakin logis. Jadi, aparatus mental yang dimilikinya makin canggih tetapi aparatus ini dapat diarahkan ke solusi berbagai problem kehidupan yang tiada berkesudahan.

c.       Perkembangan Moral dan Sosial
Piaget (Muhibbin Syah, 2000: 76-77) menekankan bahwa pemikiran moral anak, terutama ditentukan oleh kematangan kapasitas kognitifnya. Sedangkan di sisi lain, lingkungan sosial merupakan pemasok materi mentah yang akan diolah oleh ranah kognitif anak tersebut secara aktif. Interaksi sosial dengan teman-teman sepermainan sebagai contoh, terdapat dorongan sosial yang menantang anak tersebut untuk mengubah orientasi moralnya.
Perkembangan moral anak ditandai dengan kemampuan anak memahami aturan, norma dan etika yang berlaku. Piaget (Slamet Suyanto)  membagi perkembangan moral ke dalam tiga tahap.
1)    Premoral. Pada tahap ini anak belum dapat menggunakan pertimbangan moral untuk perilakunya. Hal ini disebabkan anak belum mempunyai pengalaman bersosialisasi dengan orang lain dan masyarakat tempat aturan, etika, dan norma itu ada. Disamping itu, anak juga masih bersifat egosentris, belum dapat memahami perspektif atau cara pandang orang.
2)    Moral realism. Pada tahap ini kesadaran anak akan aturan mulai tumbuh. Perilaku anak sangat dipengaruhi oleh aturan yang berlaku oleh konsekuensi yang harus ditanggung anak atas perbuatannya.
3)    Moral relativism. Pada tahap ini perilaku anak didasarkan atas berbagai pertimbangan moral yang kompleks yang ada dalam dirinya. Pada tahap ini perilaku anak tidak lagi terbawa arus atau terpengaruh orang lain, tetapi anak sendiri sudah mengembangkan suatu nilai atau moral yang ia gunakan untuk memecahkan berbagai persoalan yang terkait dengan moral atau nilai.
Perkembangan sosial anak mulai dari bersifat egosentris, individual ke arah interaksi sosial. Pada mulanya anak bersifat egosentris, memandang persoalan dari satu sisi yaitu dari dirinya sendiri. Ia tidak mengerti bahwa orang lain dapat berpandangan berbeda dengan dirinya. Oleh karena itu, pada usia 2-3 tahun anak masih suka bermain sendiri (individual). Selanjutnya, anak mulai berinteraksi dengan orang lain. Ia mulai bermain bersama dan tumbuh sifat sosialnya (Slamet Suyanto).
 Perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal Sekolah Dasar antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri. Perkembangan emosinya antara lain, anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, dapat mengontrol emosi, mampu berpisah dengan orang tua dan mulai belajar tentang benar dan salah. Selain itu, perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal Sekolah Dasar ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

Terimakasih atas kunjungan anda, Semoga bermanfaat.
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...